AER SELUK
(Esafmalioy)
(Esafmalioy)
Haria
adalah salah satu negeri di pulau Saparua
yang selain memiliki kisah
tentang sejarah Thomas Mathulessy alias Kapitan Pattimura ternyata menyimpan
cerita rakyat yang sangat menarik dan
salah satunya adalah cerita tentang Air Seluk yang letaknya di antara Air Raja dan Air Naru.
Alkisah,
pada jaman dahulu, ada dua anak muda yaitu Seli dan Lukas sedang kasmaran. Gelora
asmara yang kian menggebu, akhirnya bersatulah
mereka dalam hubungan cinta. Awal percintaan, mereka selalu betemu dan berbagi
cerita di rumah Seli. Hal ini dilakukan hampir setiap hari baik siang maupun
sampai larut malam sehingga mereka berdua kadang tidak melakukan pekerjaan
lain. Singkat cerita, Seli dan Lukas yang telah menamatkan pendidikan SMA-nya
menekuni pekerjaan sebagai papalele dan
nelayan. Keseringan perjumpaan mereka, ternyata menjadi perhatian orang tua
Seli dan hal ini menimbulkan amarah, sehingga satu saat, ketika mereka sedang duduk
bercerita di teras rumah, tiba-tiba
ibu Seli berkata;
“dong dua su parsis orang su baruma tangga,
siang malang dudu kewel seng masu-masu akal, seng bisa bantu orang totua sadiki
lai, masu kadalang la talang anging. He lukas nanau e, be su pastiu lia os pung
dalang muka tu, eso os datang lai, bet sirang os deng aer babasu, os nanala ale“
Ibu
Seli menyadari, ternayata setelah anaknya mulai menjalin cinta dengan Lukas,
banyak pekerjaan di rumah yang tidak dikerjakan Seli, sehingga setiap
perjumpaan mereka selalu mendapat caci-maki ibu Seli. Tetapi kata-kata seperti
yang diucapkan ibu Seli, sepertinya tidak mempan karena buktinya mereka masih tetap betemu setiap hari di rumah
Seli. Menyikapi kondisi demikian, ayah Seli yang adalah seorang pendiam
akhirnya juga turut menegur. Satu saat,
ketika bulan bersinar dengan indahnya, mereka berdua sedang bercerita dengan
mesranya tiba-tiba, ayah Seli berkata;
“Ana
dua ni sama seng tau malayo, stori par dong dua mangkali pake bahasa alepuru
bole kapa. la kal su seng dengar orang totua, dong mo dengar sapa lai uanao e? Lukas e, ose ni manusia pung ana ka
bukang? eso os datang lai kio nanti kong os lia jua ana, kata bet biking apa
par os”
Malam
itu sungguh tidak menyenangkan bagi Seli dan Lukas, akhirnya Lukas memutuskan
untuk hari-hari berikutnya mereka berjumpa di rumahnya. Di rumah Lukas, mereka
sangat merasa nyaman karena ibunya
mendukung hubungan mereka dan selalu mengatur pertemuan. Mendapat angin segar,
Seli kadang jarang pulang rumah bahkan akhirnya tidur kalau sudah larut malam. Berbeda
dengan ibu, ternyata ayah Lukas tidak menyetujui hubungan mereka, apalagi Seli harus menginap setiap malam. Karena
akan menjadi buah bibir tetangga sehingga dengan tegas dia melarang untuk
bertemu di rumahnya. Satu saat, ketika
mereka sedang bercanda ria, tiba-tiba ayah Lukas berkata;
“ Kalu dong
dua mau stori, lebe bae dong pi di istarat, kaseng dalang utang pi, supaya
orang pinggir-pinggir ruma seng stori katong pung busu. su seng karja apapa
lai, cuma dudu kewel sasaja. eso dong
dua ada di sini lai,beta skrobi dong dua, kaseng bet ika dong dua pung kaki deng gamutu la bet kas
tinggalang di ar masing, ingatang kio, bet stori satu kali saja, dong dua
hagahaga deng beta ale, beta lipa satu kali ingkabawa e!
Hubungan
cinta mereka berdua ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Banyak tantangan dari kedua keluarga,
hingga akhirnya dua sejoli yang sedang dimabuk asmara ini memutuskan
untuk mencari tempat yang aman dan nyaman.
Rumah Seli letaknya tidak jauh dari air raja dan ia setiap hari ia
mengambil untuk keperluan minum dan memasak dan pada tepian jalan menuju air
raja ada sebuah goa batu yang belum terjamah siapapun karena masih tertutup
dedaunan. Selipun mengajak Lukas;
”Luki e, ada satu lubang kio akang paleng bagus
ale, he, be pi timba aer raja kio la dapa lia, la be mangente akang, darpada
katong dapa mara parsis ana kacil, lebe bae katong bakudapa di lubang saja kio,
bagimana, ale mau kaseng?”
Mendengar ajakan Seli, Lukaspun
berkata;
“Iyo ka Seli e, batul lai, daripada katong pada
mulu parsis ana tiri, lebe bae katong pi bakudap dalang lubang saja kio ale”
Akhirnya
mereka berdua berbagi cinta di dalam goa dan ternyata di dalam goa itu ada sumber
air yang sangat jernih dan sejuk. Seiap hari mereka bertemu di gua bahkan
jarang pulang rumah, hingga akhirnya mereka tidak pernah pulang lagi ke rumah
untuk selamanya. Kedua keluarga
berusaha untuk mencari ke hutan dan laut Negeri Haria dan tanpa disadari, keluarga
Seli menemukan balangal[1]
yang biasa dipakai Seli untuk mengambil air raja di dalam gua itu dan akhirnya
keluarga menyimpulkan bahwa Seli dan Lukas hilang di
dalam gua. Air yang ada di dalam gua
oleh orang Haria dikenal dengan nama Air Seluk[2]
dan biasa dipakai hingga kini untuk keperluan minum dan memasak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar