Senin, 11 Mei 2015

AER SELUK



AER SELUK
(Esafmalioy)

            Haria adalah salah satu negeri di pulau Saparua  yang selain  memiliki kisah tentang sejarah Thomas Mathulessy alias Kapitan Pattimura ternyata menyimpan cerita rakyat   yang sangat menarik dan salah satunya adalah cerita tentang Air Seluk yang letaknya  di antara Air Raja dan Air Naru.
            Alkisah, pada jaman dahulu, ada dua anak muda yaitu Seli dan Lukas sedang kasmaran. Gelora asmara yang  kian menggebu, akhirnya bersatulah mereka dalam hubungan cinta. Awal percintaan, mereka selalu betemu dan berbagi cerita di rumah Seli. Hal ini dilakukan hampir setiap hari baik siang maupun sampai larut malam sehingga mereka berdua kadang tidak melakukan pekerjaan lain. Singkat cerita, Seli dan Lukas yang telah menamatkan pendidikan SMA-nya menekuni pekerjaan sebagai papalele dan nelayan. Keseringan perjumpaan mereka, ternyata menjadi perhatian orang tua Seli dan hal ini menimbulkan amarah, sehingga satu saat, ketika mereka sedang duduk bercerita di teras rumah, tiba-tiba ibu Seli berkata;
 dong dua su parsis orang su baruma tangga, siang malang dudu kewel seng masu-masu akal, seng bisa bantu orang totua sadiki lai, masu kadalang la talang anging. He lukas nanau e, be su pastiu lia os pung dalang muka tu, eso os datang lai, bet sirang os deng aer babasu, os nanala ale“
            Ibu Seli menyadari, ternayata setelah anaknya mulai menjalin cinta dengan Lukas, banyak pekerjaan di rumah yang tidak dikerjakan Seli, sehingga setiap perjumpaan mereka selalu mendapat caci-maki ibu Seli. Tetapi kata-kata seperti yang diucapkan ibu Seli, sepertinya tidak mempan karena buktinya  mereka masih tetap betemu setiap hari di rumah Seli. Menyikapi kondisi demikian, ayah Seli yang adalah seorang pendiam akhirnya juga turut menegur.  Satu saat, ketika bulan bersinar dengan indahnya, mereka berdua sedang bercerita dengan mesranya tiba-tiba, ayah Seli berkata;
 “Ana dua ni sama seng tau malayo, stori par dong dua mangkali pake bahasa alepuru bole kapa. la kal su seng dengar orang totua, dong mo dengar sapa lai uanao e?   Lukas e, ose ni manusia pung ana ka bukang? eso os datang lai kio nanti kong os lia jua ana, kata bet biking apa par os”

            Malam itu sungguh tidak menyenangkan bagi Seli dan Lukas, akhirnya Lukas memutuskan untuk hari-hari berikutnya mereka berjumpa di rumahnya. Di rumah Lukas, mereka sangat merasa  nyaman karena ibunya mendukung hubungan mereka dan selalu mengatur pertemuan. Mendapat angin segar, Seli kadang jarang pulang rumah bahkan akhirnya tidur kalau sudah larut malam. Berbeda dengan ibu, ternyata ayah Lukas tidak menyetujui hubungan mereka,  apalagi Seli harus menginap setiap malam. Karena akan menjadi buah bibir tetangga sehingga dengan tegas dia melarang untuk bertemu di rumahnya. Satu saat,  ketika mereka sedang bercanda ria, tiba-tiba ayah Lukas berkata;
            Kalu dong dua mau stori, lebe bae dong pi di istarat, kaseng dalang utang pi, supaya orang pinggir-pinggir ruma seng stori katong pung busu. su seng karja apapa lai, cuma dudu kewel sasaja. eso  dong dua ada di sini lai,beta skrobi dong dua, kaseng  bet ika dong dua pung kaki deng gamutu la bet kas tinggalang di ar masing, ingatang kio, bet stori satu kali saja, dong dua hagahaga deng beta ale, beta lipa satu kali ingkabawa e!   
            Hubungan cinta mereka berdua ternyata tidak semulus yang dibayangkan.                  Banyak tantangan dari kedua keluarga,  hingga akhirnya  dua sejoli yang sedang dimabuk asmara ini memutuskan untuk mencari tempat yang aman dan nyaman.  Rumah Seli letaknya tidak jauh dari air raja dan ia setiap hari ia mengambil untuk keperluan minum dan memasak dan pada tepian jalan menuju air raja ada sebuah goa batu yang belum terjamah siapapun karena masih tertutup dedaunan. Selipun mengajak Lukas;
Luki e, ada satu lubang kio akang paleng bagus ale, he, be pi timba aer raja kio la dapa lia, la be mangente akang, darpada katong dapa mara parsis ana kacil, lebe bae katong bakudapa di lubang saja kio, bagimana, ale mau kaseng?”
Mendengar ajakan Seli, Lukaspun berkata;
Iyo ka Seli e, batul lai, daripada katong pada mulu parsis ana tiri, lebe bae katong pi bakudap dalang lubang saja kio ale”
            Akhirnya mereka berdua berbagi cinta di dalam goa dan ternyata di dalam goa itu ada sumber air yang sangat jernih dan sejuk. Seiap hari mereka bertemu di gua bahkan jarang pulang rumah, hingga akhirnya mereka tidak pernah pulang lagi ke rumah untuk selamanya.   Kedua keluarga berusaha untuk mencari ke hutan dan laut Negeri Haria dan tanpa disadari, keluarga Seli menemukan balangal[1] yang biasa dipakai Seli untuk mengambil air raja di dalam gua itu dan akhirnya keluarga menyimpulkan bahwa     Seli dan Lukas hilang di dalam gua.  Air yang ada di dalam gua oleh orang Haria  dikenal dengan nama Air Seluk[2] dan biasa dipakai hingga kini untuk keperluan  minum dan memasak.





[1] Tempat air yang terbuat dari tanah liat dan diletakkan di atas kepala
[2] Singkatan dari Seli dan Lukas