Selasa, 06 Desember 2011

api di atas gunung


Api di atas gunung
  Karya : Esaf Malioy
 
Malam semakin kelam,
sepi,hening, mencekam
hati tersiksa, jiwa merana,
hidup ini tak punya arti

Lalu nurani bicara,
ingin meraih kebebasan
Sekian lama terbuai mimpi,
kini saatnya jadi nyata

Semangat membara di dada
membakar obor perjuangan
bias cahaya kehidupan
sinari gelap negri ini

Api di atas gunung
membakar jiwa raga
untuk berontak dari penindasan
Obor di gunung Saniri
terangi jalan cita
melangkah pasti bangun negeri ini

Kamis, 17 November 2011

laki-laki deng hahalang

Karya : Esaf Malioy


Laki-laki dengar ayam bakuku tiga kali,
takajo bangong, dudu dipinggir tapalang 
deng mata masi mamboro, 
kuca-kuca akang,lalu basuh deng air 
par kasi ilang manganto sisa
Laki-laki bajalang ka muka tungku,
kumpul api, taru aer panas,
lome sagu manta lalu tuang papeda,
bakar ikang, giling ulak sadiki
rau daong pisang, lalu bungkus bakal

Laki-laki loko parang, lenggang satu napas,
potong jalang, lena bantu pintu
sampe di kabong biking wango-wango par user agas
pameri kiri kanang, biking kuming baru, isi  kasbi deng kaladi,
cabu taki deng parampuang malu, lalu tambong akang par pupuk

Laki-laki talang aer  par bunu aos, isi poro,
ambel snang sadiki, cabu kasbi,kaladi, pete daong kasbi,
matel,paku-paku saji, punggul cili
lahia kalapa karing, letu akang pung jaga par biking kamboti

Matahari amper tapele di balakang gunung,
Laki-laki pasapua isi kasbi,kaladi, daong kasbi,matel,
paku-paku saji, cili, dalang kamboti,
potong gopasa par biking hahalang,lalu taru akang di  bahu,
ator langkah satu napas, lena kapala aer, 
paparipi sampe di rumah
jang sampe bakudapa galap di tengah jalang

 Mar sakarang................
laki-laki deng hahalang tu su seng ada lai
antua su pigi ka tampa
yang antua rindu akang dari kacil

Sebelum pigi, antua cuma bilang
Biar  beta su seng ada lai !
mar dong pung hidop ade kaka tetap baku sayang
satu susa, samua rasa susa
satu sanang, samua rasa sanang


Ambon, 17 Nopember 2011

terima kasih bapak jopi papilaja


 
Kau bangunkan kota ini dari tidur,
satukan dua hati yang berbeda mengejar impian,
merajut cita dalam asa yang tak bertepi
Kau taburkan benih kasih di sanubari,
hapuskan segala duka yang tersisa

Di ujung pena cinta kasih,
Kau mengukir pribadi-pribadi bermartabat,
Kau bangkitkan semangat untuk hidup
wujudkan impian jadi nyata

Terima kasih Bapak Jopi Papilaja
atas pengorbananmu bagi kota ini,
sepuluh tahun pengabdianmu penuh ketulusan
akan dikenang hingga akhir waktu,
semoga kota Ambon Manis e terus maju

                                                                                                                        

Terima Kasih yang tulus dari Keluarga Besar
Dinas Koperasi dan UKM Kota Ambon

Goresan Pena : Esaf Malioy, Juli 2011








Minggu, 23 Oktober 2011

kipas lenso






Kipas Lenso
Karya : Esaf  Malioy
(Ambon, 27 Agustus  2005)


Ketika senja membayang di batas hari dan malam mulai menjemput,
sinar bulan mulai menerangi gelapnya jagad,
tampak kemilau cahaya pasir putih,
desir angin mendesah ke puncak pucuk pohon sagu,
deburan ombak menghempas dan memecah di cela batu karang.
hembusan angin barat membawa Ombak Putih
berlomba mengejar impian dan berkhayal,
hingga berhenti pada satu ujung pantai sepi di sudut pulau ini.

Lalu….  di atas tanah nan subur, berdiri tegar sebuah Istana Megah
di antara dua tanjung kokoh, dari gumpalan tanah berbatu permata
dan pada tembok paling tua itu terukir Memori Indah
tentang sebuah Kota Idaman yang menyimpan sejuta asa di dada para datuk
punya cita dan kerinduan luhur semoga kota itu tetap manis dan terus maju
Itulah Ambon Kotaku….. Kota Ambon Manis e !

Di Kota ini, kugantungkan segala asa dan cinta,
menjemput cita, menggapai hari depan yang gemilang.
Ambonku telah merubah wajah dunia
menjadi dunia yang apakah ada bedanya ?
Tidak !  Sekali lagi tidak ! Dunia kita cuma satu !
Satu hati, satu darah, satu jantong dan satu gandong !

Sekian lama kita berdiri di tepian penantian,
yang semakin merasuk sanubari,
terpuruk bersama waktu yang terus berlalu,
Wahai  Anak Negeri Ambon Manis e, Bangkitlah !
sudah saatnya Kita Bangkit ! Kini waktunya Kita Bangkit !

Kipas Lenso ! Kipas Lenso ! Kipas Lenso !
Senandungkanlah nyanyian Pela dan Gandong,
tarikanlah tarian kebersamaan.
Dengan semangat Bersatu Manggurebe Maju,
Kita bangun  Kota Ambon dari keterpurukan yang menghimpit sukma,
Kita buat hidup ini jadi lebih berarti, agar dalam tatapan mata sayu nan berseri,
Kita tetap tersenyum menatap Kota Ambon Manis e
yang dulu hilang sesaat dalam kekelaman, kembali bangkit.
Kini Ambonku yang manis telah Bangkit !
Bangkitlah Ambonku ! Bangkitlah Ambonku ! Ambonku Bangkit ! 



(Ilustrasi tentang sejarah terbentuk Kota Ambon yang  kemudian bangkit menggapai asa dan cita)
Lomba Cipta Puisi HUT Kota Ambon 2005