Kipas Lenso
Karya
: Esaf Malioy
(Ambon,
27 Agustus 2005)
Ketika senja membayang di batas
hari dan malam mulai menjemput,
sinar bulan mulai menerangi
gelapnya jagad,
tampak kemilau cahaya pasir
putih,
desir angin mendesah ke puncak
pucuk pohon sagu,
deburan ombak menghempas dan
memecah di cela batu karang.
hembusan angin barat membawa Ombak Putih
berlomba mengejar impian dan
berkhayal,
hingga berhenti pada satu ujung
pantai sepi di sudut pulau ini.
Lalu…. di atas tanah nan subur, berdiri tegar sebuah
Istana Megah
di antara dua tanjung kokoh, dari
gumpalan tanah berbatu permata
dan pada tembok paling tua itu
terukir Memori Indah
tentang sebuah Kota Idaman yang
menyimpan sejuta asa di dada para datuk
punya cita dan kerinduan luhur semoga
kota itu tetap manis dan terus maju
Itulah Ambon Kotaku….. Kota Ambon Manis e !
Di Kota ini, kugantungkan segala
asa dan cinta,
menjemput cita, menggapai hari
depan yang gemilang.
Ambonku telah merubah wajah dunia
menjadi dunia yang apakah ada
bedanya ?
Tidak ! Sekali lagi tidak ! Dunia kita cuma satu !
Satu hati, satu darah, satu jantong dan satu gandong !
Sekian lama kita berdiri di
tepian penantian,
yang semakin merasuk sanubari,
terpuruk bersama waktu yang terus
berlalu,
Wahai Anak Negeri Ambon Manis e,
Bangkitlah !
sudah saatnya Kita Bangkit ! Kini waktunya Kita Bangkit !
Kipas Lenso ! Kipas Lenso ! Kipas Lenso !
Senandungkanlah nyanyian Pela dan
Gandong,
tarikanlah tarian kebersamaan.
Dengan semangat Bersatu Manggurebe Maju,
Kita bangun Kota Ambon dari keterpurukan yang menghimpit
sukma,
Kita buat hidup ini jadi lebih
berarti, agar dalam tatapan mata sayu nan berseri,
Kita tetap tersenyum menatap Kota
Ambon Manis e
yang dulu hilang sesaat dalam
kekelaman, kembali bangkit.
Kini Ambonku yang manis telah
Bangkit !
Bangkitlah Ambonku ! Bangkitlah Ambonku ! Ambonku Bangkit !
(Ilustrasi tentang sejarah terbentuk Kota Ambon yang kemudian bangkit menggapai asa dan cita)
Lomba Cipta Puisi HUT Kota Ambon 2005

